By
Endra Catur P
Muhammad Billyanto Agizal namaku.
Teman temanku sering memanggilku Bii. Kulitku
kuning langsat, mataku sipit bagai biji mentimun. Tubuhku tinggi
semampai. Kata orang, wajahku tampan. Tapi, aku bukanlah orang yang
sempat memikirkan ketampanan wajah. Dari kecil, aku di sibukkan oleh
banyak hal, terutama bagaimana membantu ibu mendapatkan biaya hidup
tambahan.
Kami terlahir bukanlah dari keluarga
kaya. Ibuku hanyalah seorang wanita biasa yang hanya mampu membantu
suaminya dengan cara membuat kue dan menitipkannya di toko toko. Pagi
pagi atau sore sore. Ayahku hanyalah seorang pebisnis yang kurang
berhasil di bidangnya. Sedangkan kakakku adalah mahasiswa perguruan
tinggi universitas negri di kota ini.
Kemiskinan merupakan wajah keluarga kami . kemiskinan
di muka bumi bisa menjadi milik siapa saja , tak terkecuali kami. Aku
tak pernah mengeluh dengan kemiskinan ini. Sebagai makhluk tuhan,
kami senantiasa berusaha ntuk hidup yang lebih baik dan senantiasa
berdoa kepadaNYA.
Cinta memberikan kelembutan pada hati
pecinta, dalam kelembutan tidak kemarahan dan kejengkelan. Yang ada
hanyalah cahaya kasih yang menerangi hati
.Aku siswa SMA biasa seperti kalian. Aku juga biasa bergaul dan
bersendau gurau bersama teman - temanku, aku kadang terpaksa remidi
buat menutupi nilai ulangan yang kurang, dan aku juga bisa patah
hati. Sama seperti kalian kan ? Tapi mungkin ada satu hal yang
membedakan kita, dan mungkin ini aneh, karena semuanya berawal dari
hal sepele yang bahkan tidak pernah aku bayangkan akan jadi seperti
ini akibatnya.
Seperti orang kebanyakan, pasti pernah mengalami yang
namanya masalah di keluarga. Keluargaku termasuk tipe keluarga yang
talk less do more, beda dengan keluarga lain yang lebih suka do less
talk more.
Namun
itu semua berubah saat ayah ku memenangkan tender besar. Atas kerja
kerasnya diapun semakin dikenal di kalangan pebisnis lainnya , selain
itu dia mulai sering memenangkan tender tender yang lain.
Berawal dari rumah sederhana kini
menjadi bak istana
megah. Aku dan keluargaku semakin bahagia dengan fasilitas fasilitas
yang tersedia. Kami dapat makan enak setiap hari. Sekarang kami dapat
berkaian mahal dan trendy. Harta membuat kami bahagia, tapi tak untuk
selamanya.
Kukira
awalnya hidup ini akan bagaia bertahan lebih lama,
namun itu hayalah isapan jempol belaka. Aku lelah dengan semua ini,
lelah dengan sikap ayah dan ibuku yang selalu kekanakan dan egois.
Tiada hari terlewatkan tanpa bertengkar, rumah sudah serasa neraka
dibuatnya. ayah yang selalu sibuk dengan urusan kantor, sibuk mencari
uang, begitu pun ibu Sibuk dengan karir dan teman-temannya, tak
pernah peduli akan Aku. Mereka hanya pulang untuk bertengkar. Aku
seperti ini pun mereka takkan peduli. Lebih berartikah uang dari pada
aku bagi ayah ? dan lebih pentingkan teman-teman arisan Bagi ibu? aku
butuh kasih sayang dan perhatian ayah, ibu. Bukan materi dan
kemewahan ini, dan sekarang ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah,
besok adalah sidang pertama mereka. Kenapa mereka begitu egois…?
Perubahan ku semakin menjadi-jadi,mulai dari gaya
bicara, cara berpakaian, kebiasaan-kebiasaan baruku ,bahkan sekarang
aku berteman dengan anak-anak yang terkenal nakal disekolah.
berkali-kali sahabatku mencoba mengingatkanku, tapi tak pernah
kurespon, aku hanya diam dan berlalu begitu saja.
Tak tahan lagi melihat kelakuanku, steven dan christan
memutuskan untuk berbicara denganku. Setelah menyusuri semua sudut
sekolah akhirnya mereka menemukanku juga. steven dan christan
terkejut setengah mati melihat kenyataan yang ada didepan mata
mereka, sekumpulan anak SMA dengan seragam lengkap sedang pesta
narkoba dilingkungan sekolah, dan disana juga ada sahabat mereka,
yaitu aku.
Dengan tiba-tiba steven berlari dan
menyeretku keluar dari gudang sekolah.
“ Sini, apa yang kamu lakukan
disini sama anak-anak itu? Tanya
steven dengan kasar menarik tanganku.
“Jadi semua yang temen-temen bilang itu betul?
Ya, inilah kehidupanku sekarang, apa
peduli kalian ? dan mereka adalah teman-temanku. Jawabku.
Teman ? Apakah itu yang kamu katakan
teman, hanya bisa menjerumuskan ? seorang teman takkan menjerumuskan
temannya, bii. Katanya dengan lantang.
“Kemana kalian saat aku lagi butuh,
masih pedulikah kalian pada ku, kalian tak pernah tahu rasanya jadi
aku. Mereka bisa
membuatku melupakan semua masalah yang ingin ku buang. Kalian
tak pernah mengerti aku”. Kataku dengan suara bergetar.
Sontak christan angakat bicara
mendengar kata-kataku.
“ Bagaimana kami bisa tahu akan
masalahmu, sementara kamu tak pernah ingin katakan itu pada aku dan
steven, kami bukan tak peduli , tapi kamu yang tak pernah lagi
berbagi pada kami. Setiap kali kami bertanya jawaban mu selalu saja
sama ” Aku baik, jangan khawatir”. Selama
ini tak pernah ada rahasia diantara kita, selalu terbuka satu sama
lain. Tapi kamu mulai jauh, aku dan steven rindu Bii yang dulu, tapi
kini kamu telah berubah….kenapa kamu sembunyikan masalah-masalahmu
dari kami, kami adalah sahabatmu..
“Aku tak ingin membuat kalian
sedih, dan membebani pikiran kalian,aku tak ingin menjadi beban”.
Jawabku lirih.
“Kamu salah, aku dan christan
justru lebih sedih jika kamu sembunyikan dan tak katakan itu pada
kami, satu hal lagi kamu takkan pernah menjadi beban kami, karena
kita adalah sahabat, aku dan christan mungkin tak bisa memberi solusi
yang terbaik untuk masalah mu, tapi setidaknya kami adalah teman
berbagi dan pendengar yang baik.
aku
menangis, terduduk lesu diatas lantai yang berdebu, ada hening
diantara air mata kami.
“Maaf kan aku”. ucap steven
sembari mendekati ku.
“ Tapi bukan berarti kamu harus
lari ke obat-obatan itu Bii. Itu bukan solusi terbaik, jauhi, dan
berhentilah mengkonsumsi obat terlarang itu. Kembali kepada kami
seperti dulu lagi. Aku dan christan Rindu Billy yang dulu.
“Benar kata steven”, sambut christan.
“Obat-obatan itu tidak akan pernah
bisa menyelesaikan masalah,justru akan menambah masalah baru, jika
pihak sekolah tahu kamu pasti akan dikeluarkan, selain itu dia juga
merusak kerja tubuh mu. Masalah itu bukan untuk dihindari Bii,
tapi untuk dihadapi, aku tahu masalah mu saat ini memang pelik, tapi
yakinlah kamu pasti bisa lewati itu, bukan dengan cara lari ke
obat-obatan terlarang. Kamu harusnya bersyukur karena masih bisa
melihat dan bertemu kedua orang tuamu, sementara aku tidak bisa lagi
melihat ayahku, bahkan aku tak tahu seperti apa sosok ayah, karena
waktu ayah pergi aku masih terlalu kecil untuk bisa mengingat
sosoknya. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya berada dalam pelukan
seorang ayah layaknya anak-anak lain. Aku kerap kali iri pada
kamu dan steven yang memilik ayah yang begitu menyayangi mu,
sementara aku, melihat wajah ayahku pun aku tak bisa. Tak ada tempat
untuk memanggil ayah lagi seperti kalian. Aku yakin setiap orang tua
menyayangi anak-anaknya, jauh dari yang kamu ketahui, begitu pun
dengan Mami dan Papi. Perpisahan bukan berarti mereka tak
menyayangimu, mungkin ini adalah yang terbaik bagi mereka berdua,
mungkin dengan begitu keadaannya akan lebih baik, walaupun ku tahu
ini memang sulit untuk kau terima. Tapi ingatlah kami kan selalu ada
untuk mu. Demi Papi dan Mami mu jangan sentuh lagi obat-obatan itu..
Saat steven dan christan berusaha
menenangkanku tiba-tiba
kepala sekolah dengan dua satpam dikanan kirinya mendekati kami
dengan wajah yang tak mengenakkan, dan firasat ku memang benar.
Mereka langsung menyeretku dengan kasarnya, sementaraaku terus
memberontak.
Steven dan christan menemui ku
dirumah sakit yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri.
Tergores lelah juga duka dalam wajahku.
” Bangunlah dan buka mata mu, Bii.
Kamu pasti bahagia, disini ada Mami dan Papi mu, menunggu mu
terbangun, membawa cinta untukmu, bangun dan tersenyumlah… ” ucap
sahabat ku .
Setelah
keluar dari rumah sakit,
dan rehabilitas . aku mendapat berita bahagia bahwa ayah dan ibu ku
rujuk kembali. Mereka kini lebih sering meluangkan waktu di rumah
dengan ku dan kakakku. Kini Aku baru sadar bahwa harta kekuasaan
pangkat tidak dapat menjamin kebahagiaan dalam di setiap keluarga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar