,,,, Welcome to my blog, hopefully memorable for you, you can contact me through endracatur@gmail.com and endra.catur @ ymail.com, thanks and you can contact me in face book with name ENDRA CATUR thanks ,,,

Minggu, 30 Juni 2013

Kelabu dalam Pelangi

By Endra Catur P

Muhammad Billyanto Agizal namaku. Teman temanku sering memanggilku Bii. Kulitku kuning langsat, mataku sipit bagai biji mentimun. Tubuhku tinggi semampai. Kata orang, wajahku tampan. Tapi, aku bukanlah orang yang sempat memikirkan ketampanan wajah. Dari kecil, aku di sibukkan oleh banyak hal, terutama bagaimana membantu ibu mendapatkan biaya hidup tambahan.

Kami terlahir bukanlah dari keluarga kaya. Ibuku hanyalah seorang wanita biasa yang hanya mampu membantu suaminya dengan cara membuat kue dan menitipkannya di toko toko. Pagi pagi atau sore sore. Ayahku hanyalah seorang pebisnis yang kurang berhasil di bidangnya. Sedangkan kakakku adalah mahasiswa perguruan tinggi universitas negri di kota ini.
Kemiskinan merupakan wajah keluarga kami . kemiskinan di muka bumi bisa menjadi milik siapa saja , tak terkecuali kami. Aku tak pernah mengeluh dengan kemiskinan ini. Sebagai makhluk tuhan, kami senantiasa berusaha ntuk hidup yang lebih baik dan senantiasa berdoa kepadaNYA.
Cinta memberikan kelembutan pada hati pecinta, dalam kelembutan tidak kemarahan dan kejengkelan. Yang ada hanyalah cahaya kasih yang menerangi hati .Aku siswa SMA biasa seperti kalian. Aku juga biasa bergaul dan bersendau gurau bersama teman - temanku, aku kadang terpaksa remidi buat menutupi nilai ulangan yang kurang, dan aku juga bisa patah hati. Sama seperti kalian kan ? Tapi mungkin ada satu hal yang membedakan kita, dan mungkin ini aneh, karena semuanya berawal dari hal sepele yang bahkan tidak pernah aku bayangkan akan jadi seperti ini akibatnya.
Seperti orang kebanyakan, pasti pernah mengalami yang namanya masalah di keluarga. Keluargaku termasuk tipe keluarga yang talk less do more, beda dengan keluarga lain yang lebih suka do less talk more.
Namun itu semua berubah saat ayah ku memenangkan tender besar. Atas kerja kerasnya diapun semakin dikenal di kalangan pebisnis lainnya , selain itu dia mulai sering memenangkan tender tender yang lain.
Berawal dari rumah sederhana kini menjadi bak istana megah. Aku dan keluargaku semakin bahagia dengan fasilitas fasilitas yang tersedia. Kami dapat makan enak setiap hari. Sekarang kami dapat berkaian mahal dan trendy. Harta membuat kami bahagia, tapi tak untuk selamanya.
Kukira awalnya hidup ini akan bagaia bertahan lebih lama, namun itu hayalah isapan jempol belaka. Aku lelah dengan semua ini, lelah dengan sikap ayah dan ibuku yang selalu kekanakan dan egois. Tiada hari terlewatkan tanpa bertengkar, rumah sudah serasa neraka dibuatnya. ayah yang selalu sibuk dengan urusan kantor, sibuk mencari uang, begitu pun ibu Sibuk dengan karir dan teman-temannya, tak pernah peduli akan Aku. Mereka hanya pulang untuk bertengkar. Aku seperti ini pun mereka takkan peduli. Lebih berartikah uang dari pada aku bagi ayah ? dan lebih pentingkan teman-teman arisan Bagi ibu? aku butuh kasih sayang dan perhatian ayah, ibu. Bukan materi dan kemewahan ini, dan sekarang ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah, besok adalah sidang pertama mereka. Kenapa mereka begitu egois…?
Perubahan ku semakin menjadi-jadi,mulai dari gaya bicara, cara berpakaian, kebiasaan-kebiasaan baruku ,bahkan sekarang aku berteman dengan anak-anak  yang terkenal nakal disekolah. berkali-kali sahabatku mencoba mengingatkanku, tapi tak  pernah kurespon, aku hanya diam dan berlalu begitu saja.
Tak tahan lagi melihat kelakuanku, steven dan christan memutuskan untuk berbicara denganku. Setelah menyusuri semua sudut sekolah akhirnya mereka menemukanku juga. steven dan christan terkejut setengah mati melihat kenyataan yang ada didepan mata mereka, sekumpulan anak SMA dengan seragam lengkap sedang pesta narkoba dilingkungan sekolah, dan disana juga ada sahabat mereka, yaitu aku.
Dengan tiba-tiba steven berlari dan menyeretku keluar dari gudang sekolah.
Sini, apa yang kamu lakukan disini sama anak-anak itu? Tanya steven dengan kasar menarik tanganku.
Jadi semua yang temen-temen bilang itu betul?
Ya, inilah kehidupanku sekarang, apa peduli kalian ? dan mereka adalah teman-temanku. Jawabku.
Teman ? Apakah itu yang kamu katakan teman, hanya bisa menjerumuskan ? seorang teman takkan menjerumuskan temannya, bii. Katanya dengan lantang.
Kemana kalian saat aku lagi butuh, masih pedulikah kalian pada ku, kalian tak pernah tahu rasanya jadi aku. Mereka bisa membuatku melupakan semua masalah yang ingin ku buang. Kalian tak pernah mengerti aku”.  Kataku dengan suara bergetar.
Sontak christan angakat bicara mendengar kata-kataku.
Bagaimana kami bisa tahu akan masalahmu, sementara kamu tak pernah ingin katakan itu pada aku dan steven, kami bukan tak peduli , tapi kamu yang tak pernah lagi berbagi pada kami. Setiap kali kami bertanya jawaban mu selalu saja sama ” Aku baik, jangan khawatir”.  Selama ini tak pernah ada rahasia diantara kita, selalu terbuka satu sama lain. Tapi kamu mulai jauh, aku dan steven rindu Bii yang dulu, tapi kini kamu telah berubah….kenapa kamu sembunyikan masalah-masalahmu dari kami, kami adalah sahabatmu..
Aku tak ingin membuat kalian sedih, dan membebani pikiran kalian,aku tak ingin menjadi beban”. Jawabku lirih.
Kamu salah, aku dan christan justru lebih sedih jika kamu sembunyikan dan tak katakan itu pada kami, satu hal lagi kamu takkan pernah menjadi beban kami, karena kita adalah sahabat, aku dan christan mungkin tak bisa memberi solusi yang terbaik untuk masalah mu, tapi setidaknya kami adalah teman berbagi dan pendengar yang baik.
     aku menangis, terduduk lesu diatas lantai yang berdebu, ada hening diantara air mata kami.
Maaf kan aku”. ucap steven sembari mendekati ku.
Tapi bukan berarti kamu harus lari ke obat-obatan itu Bii. Itu bukan solusi terbaik, jauhi, dan berhentilah mengkonsumsi obat terlarang itu. Kembali kepada kami seperti dulu lagi. Aku dan christan  Rindu Billy yang dulu.
Benar kata steven”, sambut christan.
Obat-obatan itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah,justru akan menambah masalah baru, jika pihak sekolah tahu kamu pasti akan dikeluarkan, selain itu dia juga merusak kerja tubuh mu. Masalah  itu bukan untuk dihindari Bii, tapi untuk dihadapi, aku tahu masalah mu saat ini memang pelik, tapi yakinlah kamu pasti bisa lewati itu, bukan dengan cara lari ke obat-obatan terlarang. Kamu harusnya bersyukur karena masih bisa melihat dan bertemu kedua orang tuamu, sementara aku tidak bisa lagi melihat ayahku, bahkan aku tak tahu seperti apa sosok ayah, karena waktu ayah pergi aku masih terlalu kecil untuk bisa mengingat sosoknya. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya berada dalam pelukan seorang ayah layaknya anak-anak lain. Aku  kerap kali iri pada kamu dan steven yang memilik ayah yang begitu menyayangi mu, sementara aku, melihat wajah ayahku pun aku tak bisa. Tak ada tempat untuk memanggil ayah lagi seperti kalian. Aku yakin setiap orang tua menyayangi anak-anaknya, jauh dari yang kamu ketahui, begitu pun dengan Mami dan  Papi. Perpisahan bukan berarti mereka tak menyayangimu, mungkin ini adalah yang terbaik bagi mereka berdua, mungkin dengan begitu keadaannya akan lebih baik, walaupun ku tahu ini memang sulit untuk kau terima. Tapi ingatlah kami kan selalu ada untuk mu. Demi Papi dan Mami mu jangan sentuh lagi obat-obatan itu..
Saat steven dan christan berusaha menenangkanku tiba-tiba kepala sekolah dengan dua satpam dikanan kirinya mendekati kami dengan wajah yang tak mengenakkan, dan firasat ku memang benar. Mereka langsung menyeretku dengan kasarnya, sementaraaku terus memberontak.
        Steven dan christan menemui ku dirumah sakit  yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Tergores lelah juga duka dalam wajahku.
Bangunlah dan buka mata mu, Bii. Kamu pasti bahagia, disini ada Mami dan Papi mu, menunggu mu terbangun, membawa cinta untukmu, bangun dan tersenyumlah… ” ucap sahabat ku .
Setelah keluar dari rumah sakit, dan rehabilitas . aku mendapat berita bahagia bahwa ayah dan ibu ku rujuk kembali. Mereka kini lebih sering meluangkan waktu di rumah dengan ku dan kakakku. Kini Aku baru sadar bahwa harta kekuasaan pangkat tidak dapat menjamin kebahagiaan dalam di setiap keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar