CERPAN By ENDRA
CATUR
Cinta
memberikan kelembutan pada hati pecinta, dalam kelembutan tidak
kemarahan dan kejengkelan. Yang ada hanyalah cahaya kasih yang
menerangi hati
.Semua memanggilku Nisa, aku siswi SMA biasa seperti kalian. Aku juga
biasa bergosip ria bersama teman - temanku, aku kadang terpaksa
remidi buat nutupi nilai ulangan yang kurang, dan aku juga bisa patah
hati. Sama seperti kalian kan ? Tapi mungkin ada satu hal yang
membedakan kita, dan mungkin ini aneh, karena semuanya berawal dari
hal sepele yang bahkan tidak pernah aku bayangkan akan jadi seperti
ini akibatnya.
Angin
malam berhembus kencang. Diatas sana, langit demikian cerah. Bulan
bersinar demikian indah bintang gemintang berkelap kelip laksana
kerdipan mata bidadari. Awan awan putih berarak- arak seumpama lembut
dan menari nari.
Seperti
cewek kebanyakan, pasti pernah mengalami yang namanya jatuh cinta.
Nah, cowok yang aku suka namanya Dika. Dia cowok biasa seperti cowok
yang lain, tapi yang lebih menonjol dari dia adalah sifatnya yang
jahil, usil dan kadang nimbulin emosi orang yang dia jahilin. Tapi
aku suka itu. Dika juga tipe cowok yang talk
less do more, beda
dengan cowok lain yang lebih suka do
less talk more.
Semilir
angin sore menjamah dedaunan kering, seperti halnya dia menjamah
wajahku, meriap – riapkan ujung ujung rambutku. Detik detik ini aku
hanya bisa bicara dalam diam, merangkai kata dalam lisan yang bisu.
“ Dika
kok ganteng banget ya, Ta.” Kataku ke Shinta. Dialah satu –
satunya orang yang aku percaya sebagai tempat curhatku setiap hari,
dan entah kenapa dia nrimo
– nrimo wae tak
jadiin tempat curhat.
“
Ih, ganteng darimana ? Orang jelek kayak gitu kok. “
“
Ih, Shinta ih. Ganteng tauk !”
“ O kamu ki
kebiasaan. Cowok ganteng mbok bilang jelek, cowok jelek mbok bilang
ganteng. Hih, bingung aku sama kamu. Dasar aneh !”
“
Biarin.
Pokoknya Dika ganteng titik !”
aku berharap pada Dika, namamu akan selalu ku jaga di hati. Aku
mohon, namaku jangan pernah kau sirnakan dari hatimu.
Itulah
anehnya aku. Cowok ganteng tak bilang jelek, cowok jelek tak bilang
ganteng. Hayo gimana jal ? Memang sampai saat ini belum ada yang
setuju dengan pernyataanku soal Dika, tapi aku tipe orang yang tidak
mudah terpengaruh dengan lingkungan, jadi aku juga cuek aja kalau
memang nggak ada yang ngedukung aku.
Suatu hari, temanku
lain bernama Aya tiba – tiba menghampiriku dan mengatakan hal yang
benar – benar bikin aku kaget.
“
Eh, Sa kamu itu suka sama Dika ya ?”
“
Hah ? Enggak. Kok kamu bisa bilang gitu ?”
“
Aku di kasih tau Shinta. Katanya,
kamu bilang Dika itu ganteng. Emang Dika ganteng darimananya sih ?”
“
La kan emang Dika ganteng. “
“
Tu kan, berarti kamu suka sama Dika ya ? Cie .. cie, nanti tak
bilangke ke orang e wes. Aku baik kan ?”
“ Eh eh jangan.
Apa kalau aku udah bilang Dika ganteng terus artinya aku suka sama
Dika gitu ?”
“ Ya iya dong.”
“
Ih yo enggak lah. Aku cuma nge - fans
sama dia doing kok, enggak lebih.”
“
Halah, wes
ngaku
aja. Eh, itu ada Dika. DIKA
!!! KAMU DIBILANG GANTENG SAMA NISA !!! “
“ Heh ! Aya ! Dika enggak kok, dia bohong, jangan percaya sama Aya ya, Dik !” kusapa dirinya dengan cintaku.
“ Heh ! Aya ! Dika enggak kok, dia bohong, jangan percaya sama Aya ya, Dik !” kusapa dirinya dengan cintaku.
Dika
hanya menatapku dengan matanya yang tajam dan dingin, membuat siapa
saja akan takut melihatnya. Dia
tidak mengeluarkan sepatah katapun, membuat aku menarik kesimpulan
bahwa dia marah. Aku
merasa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi setelah ini. Dan
benar saja. Setelah kejadian itu, Dika dan aku berlagak seperti orang
yang tidak pernah saling kenal. Aku bener – bener nggak nyangka
cuma gara – gara satu kalimat-itu aja kalimat iseng- yang
dilontarkan Aya, aku tidak pernah merasa berteman lagi dengan Dika.
Sejak saat itu-hingga sekarang-Dika nggak pernah menganggap aku ada.
Meskipun kita berada dalam satu kelas, tapi tetap Dika tidak pernah
melihatku. Awalnya, aku cuek tapi lama kelamaan aku merasa terganggu
dengan sikap Dika dan itu membuatku sadar kalau aku mulai suka,
bahkan cinta sama Dika.
cintaku masih menggantung di antara langit hati, cintaku yang masih
harus berjuang melawan waktu, hingga datang takdir tuhan akan
mengijinkan aku untuk menjemput cintaku atau tidak.
***
Seluruh
kelas sudah tahu tentang aku dan Dika. Sudah bukan rahasia lagi kalau
aku satu – satunya member di dalam forum Dika fans club. Tapi cuma
Shinta yang tau kalau aku cinta sama Dika. aku
hanya tidak tahu kapan akan merangkai benang benang cinta dengannya.
Siang ini, seperti
biasa aku dan Shinta duduk bersama dan ngobrol seputar-yah, tak jauh
– jauhlah dari Dika.
“
Aku kasihan sama kamu, Sa.”
“
Ha? Kasian gimana sih, Ta? “
“
Ya, Dika itu. Masak gara – gara omongannya Aya, dia sampai
sebegitunya sama kamu. Aku nggak bisa ngeliat kamu dicuekin terus
sama dia. Dia nggak seharusnya kayak gini sama kamu. Kamu kan cuma
ngefans sama dia, apa salahnya coba ?”
“
Aku juga nggak tau, Ta. Mungkin dia ngerasa keganggu kalau aku jadi
fansnya. Atau mungkin gara – gara aku nggak cantik, Ta. Semua cowok
kan kayak gitu. Selalu ngeliat cewek cuman dari fisiknya doang. ”
“
Ya nggak bisa gitu juga dong, Sa. Dika
udah keterlaluan sama kamu. Ini udah lebih dari 5 bulan lo dia kayak
gini sama kamu. Kamu nggak bisa diem aja disini, kalian nggak bisa
selamanya terus kayak gini ! ”
“
La aku harus gimana lagi, Ta? Aku tahu aku udah nggak bisa ngelakuin
apa – apa buat memperbaiki hubunganku sama Dika. “ tak
terasa air mataku menetes kembali dengan bejuta bertuah.
“
Nggak ! Pasti
ada jalan. “
“
Apa ? Udah, kamu nggak usah ngehibur aku. Aku
itu tau aku sama Dika bakalan kayak gini selamanya. Aku tau Dika
nggak bakal ngomong lagi sama aku, nggak bakal nganggep aku temen
lagi, nggak bakal mandang aku lagi karena aku paham pandangan Dik
a
memang bukan buat aku. Aku emang suka sama Dika, tapi kalau Dikanya
sendiri ngerasa kebebani gara – gara perasaanku ini aku nggak bisa
apa – apa kecuali nyerah. “
“
Kamu itu kenapa ? Kamu biasanya nggak nyerah segampang ini. “
“
Memang. Tapi ini bener – bener udah diluar kemampuanku, Ta. Aku
udah sadar sesadar sadarnya kalau aku nggak bakal bareng – bareng
lagi sama Dika. Karena seberapa cepatnya aku ngejar Dika, secepat itu
pula dia lari ngejauhi aku. “
“
… “
***
Terpelanting
dari kebuntuan yang satu ke kebuntuan lainnya, tapi tetap saja hanya
dapat membisu menunggu ketidakpastian
.Satu tahun berlalu. Aku sekarang udah kelas XI, kelasku berbeda
dengan Dika. Jujur, aku kangen ngeliat tingkah usilnya yang setiap
hari aku liat saat aku kelas X. Tapi, mungkin ini yang terbaik buat
aku sama Dika. Kalau saat ini aku berada dalam kelas yang sama
dengannya, aku akan semakin tersiksa karena keinget kejadian dulu.
Tapi sampai sekarang, aku belum bisa ngehapus perasaanku ke Dika. Aku
masih cinta sama Dika. Tapi sudah aku sadari, bersama Dika adalah
mimpi.
when I fall in love,
it will be forever…..
in the restless day like this
is,
love is ende before it’s
begun…
when I give my heart
it will be completety…
“
Yang sabar ya, Sa. Mungkin ada yang lebih baik dari Dika buat kamu.”
“ Iya, Ta. Aku
tahu kok. Makasih ya, Ta. Selama ini kamu udah mau ndengerin curhatku
soal Dika.”
“ Halah nggak apa
– apa. Bukannya itu gunanya sahabat ?”
“
Haha, kamu emang bener – bener best
friend buat
aku. Selamanya
kayak gini ya.”
“
PASTI.” Akhirnya ku tapaki jalan berbatu-berdebu ini ketika aku
melarikan diri hatinya Dika.
Aku
lega dengan jawaban Shinta. Aku nggak tau apa jadinya kalau Shinta
nggak ada di sampingku. Benar,
itulah guna sahabat. Pacar tak dapat, sahabat akan selalu setia
menemani. Jadi, seberapapun kamu sayang sama pacar kamu, tetap
sahabatlah yang wajib di nomer satukan.
Perkataan
Shinta membuat aku berfikir kalau mungkin ada yang lebih baik dari
dia buat aku, dan aku nggak bisa terus – terusan ngejar Dika,
karena pasti bakalan capek banget. Jadi, mungkin inilah saatnya aku
ngebuka hatiku buat orang lain, dan ngelepasin Dika. Demi Tuhan , aku
yakin sekarang. Aku benar benar yakin. Inilah Jawaban Tuhan kepada
ku. Dengan kitab-Nya aku beristikharah dan ayat-Nya aku memperoleh
keputusan bahwa aku harus melupakan dia.
***
“
Shinta ! Aku mau curhat lagi dong.”
“
Dika lagi ? “
“
Bukan. Mulai sekarang aku curhatnya soal Dimas ya. “
“
Hah ? Dimas ? Sopo
meneh kui ? “
“
Makanya aku mau cerita ke kamu soal dia. Sikapnya ke aku persis kayak
sikapnya Dika ke aku, sebabnya juga sama. Gimana
ni, Ta ? Masak aku harus ngalamin pengalaman kayak gini dua kali ?
Aku beneran nggak kuat, Ta. “ kehadirannya
di pagi ini ternyata membuka kerudung kepedihan kembali.
“
Hah ?! Masalah ini lagi ? Hadeh, capek deh ! “
Di
tengah kesucian dan di pacah keheningan ini dengan nyanyian hati.
Maafin
aku Dika, kalau ternyata selama ini perasaanku terhadap kamu
mengganggumu. Aku berharap dengan keputusanku untuk melepasmu benar.
selamat menghadapi hidup yang baru . hidup yang jauh dari aku. Meski
aku menengis darah.
***
Sahabat
itu bagai embun pagi tatkala matahari akan menyinari bumi ini.
Merasakan
ketika kebahagiaan datang menghampirinya, saya juga akan loncat
kegirangan. Ketika dia bersedih dan luka, saya mampu mengeluarkan air
mata dan merasakan bahwa betapa saya tidak ingin ia tersakiti.
Merasakan ‘kehangatan’ dan kenyamanan ketika bersama saling
berbagi cerita. Merasakan bahwa di setiap langkah ia ada dalam
ingatan dan selalu ingin menyenangkan hatinya di mana pun ia berada.
Teman
sanggup merampas orang yang kau cintai. Tapi
sahabat akan menjadi mata-mata menjaga orang yang kau cintai. Teman
akan memberi mu senyuman. Tapi sahabat memberi mu kebahagiaan
1000 teman datang
saat kamu tertawa
Tapi seorang sahabat akan datang saat kamu berderai air mata. Hiasilah kehidupan ini dengan senyuman karena ia melambangkan kehidupan yang harmoni.
Tapi seorang sahabat akan datang saat kamu berderai air mata. Hiasilah kehidupan ini dengan senyuman karena ia melambangkan kehidupan yang harmoni.
I smile with whom
I like…
I cry for whom I care…
I share with whom I really like…
I laugh with whom I enjoy…
I care only to those whom I never want to loose… *
I cry for whom I care…
I share with whom I really like…
I laugh with whom I enjoy…
I care only to those whom I never want to loose… *
THE END


Tidak ada komentar:
Posting Komentar