,,,, Welcome to my blog, hopefully memorable for you, you can contact me through endracatur@gmail.com and endra.catur @ ymail.com, thanks and you can contact me in face book with name ENDRA CATUR thanks ,,,

Minggu, 30 Juni 2013

friendship

CERPAN By ENDRA CATUR

Cinta memberikan kelembutan pada hati pecinta, dalam kelembutan tidak kemarahan dan kejengkelan. Yang ada hanyalah cahaya kasih yang menerangi hati .Semua memanggilku Nisa, aku siswi SMA biasa seperti kalian. Aku juga biasa bergosip ria bersama teman - temanku, aku kadang terpaksa remidi buat nutupi nilai ulangan yang kurang, dan aku juga bisa patah hati. Sama seperti kalian kan ? Tapi mungkin ada satu hal yang membedakan kita, dan mungkin ini aneh, karena semuanya berawal dari hal sepele yang bahkan tidak pernah aku bayangkan akan jadi seperti ini akibatnya.


Angin malam berhembus kencang. Diatas sana, langit demikian cerah. Bulan bersinar demikian indah bintang gemintang berkelap kelip laksana kerdipan mata bidadari. Awan awan putih berarak- arak seumpama lembut dan menari nari. Seperti cewek kebanyakan, pasti pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Nah, cowok yang aku suka namanya Dika. Dia cowok biasa seperti cowok yang lain, tapi yang lebih menonjol dari dia adalah sifatnya yang jahil, usil dan kadang nimbulin emosi orang yang dia jahilin. Tapi aku suka itu. Dika juga tipe cowok yang talk less do more, beda dengan cowok lain yang lebih suka do less talk more.
Semilir angin sore menjamah dedaunan kering, seperti halnya dia menjamah wajahku, meriap – riapkan ujung ujung rambutku. Detik detik ini aku hanya bisa bicara dalam diam, merangkai kata dalam lisan yang bisu.
Dika kok ganteng banget ya, Ta.” Kataku ke Shinta. Dialah satu – satunya orang yang aku percaya sebagai tempat curhatku setiap hari, dan entah kenapa dia nrimo – nrimo wae tak jadiin tempat curhat.
“ Ih, ganteng darimana ? Orang jelek kayak gitu kok.
“ Ih, Shinta ih. Ganteng tauk !”
“ O kamu ki kebiasaan. Cowok ganteng mbok bilang jelek, cowok jelek mbok bilang ganteng. Hih, bingung aku sama kamu. Dasar aneh !”
Biarin. Pokoknya Dika ganteng titik !” aku berharap pada Dika, namamu akan selalu ku jaga di hati. Aku mohon, namaku jangan pernah kau sirnakan dari hatimu.

Itulah anehnya aku. Cowok ganteng tak bilang jelek, cowok jelek tak bilang ganteng. Hayo gimana jal ? Memang sampai saat ini belum ada yang setuju dengan pernyataanku soal Dika, tapi aku tipe orang yang tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan, jadi aku juga cuek aja kalau memang nggak ada yang ngedukung aku.
Suatu hari, temanku lain bernama Aya tiba – tiba menghampiriku dan mengatakan hal yang benar – benar bikin aku kaget.
“ Eh, Sa kamu itu suka sama Dika ya ?”
“ Hah ? Enggak. Kok kamu bisa bilang gitu ?”
“ Aku di kasih tau Shinta. Katanya, kamu bilang Dika itu ganteng. Emang Dika ganteng darimananya sih ?”
“ La kan emang Dika ganteng.
“ Tu kan, berarti kamu suka sama Dika ya ? Cie .. cie, nanti tak bilangke ke orang e wes. Aku baik kan ?”
“ Eh eh jangan. Apa kalau aku udah bilang Dika ganteng terus artinya aku suka sama Dika gitu ?”
“ Ya iya dong.”
“ Ih yo enggak lah. Aku cuma nge - fans sama dia doing kok, enggak lebih.”
“ Halah, wes ngaku aja. Eh, itu ada Dika. DIKA !!! KAMU DIBILANG GANTENG SAMA NISA !!! “
“ Heh ! Aya ! Dika enggak kok, dia bohong, jangan percaya sama Aya ya, Dik !”
kusapa dirinya dengan cintaku.
Dika hanya menatapku dengan matanya yang tajam dan dingin, membuat siapa saja akan takut melihatnya. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, membuat aku menarik kesimpulan bahwa dia marah. Aku merasa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi setelah ini. Dan benar saja. Setelah kejadian itu, Dika dan aku berlagak seperti orang yang tidak pernah saling kenal. Aku bener – bener nggak nyangka cuma gara – gara satu kalimat-itu aja kalimat iseng- yang dilontarkan Aya, aku tidak pernah merasa berteman lagi dengan Dika. Sejak saat itu-hingga sekarang-Dika nggak pernah menganggap aku ada. Meskipun kita berada dalam satu kelas, tapi tetap Dika tidak pernah melihatku. Awalnya, aku cuek tapi lama kelamaan aku merasa terganggu dengan sikap Dika dan itu membuatku sadar kalau aku mulai suka, bahkan cinta sama Dika. cintaku masih menggantung di antara langit hati, cintaku yang masih harus berjuang melawan waktu, hingga datang takdir tuhan akan mengijinkan aku untuk menjemput cintaku atau tidak.

***
Seluruh kelas sudah tahu tentang aku dan Dika. Sudah bukan rahasia lagi kalau aku satu – satunya member di dalam forum Dika fans club. Tapi cuma Shinta yang tau kalau aku cinta sama Dika. aku hanya tidak tahu kapan akan merangkai benang benang cinta dengannya.
Siang ini, seperti biasa aku dan Shinta duduk bersama dan ngobrol seputar-yah, tak jauh – jauhlah dari Dika.
“ Aku kasihan sama kamu, Sa.”
“ Ha? Kasian gimana sih, Ta?
“ Ya, Dika itu. Masak gara – gara omongannya Aya, dia sampai sebegitunya sama kamu. Aku nggak bisa ngeliat kamu dicuekin terus sama dia. Dia nggak seharusnya kayak gini sama kamu. Kamu kan cuma ngefans sama dia, apa salahnya coba ?”
“ Aku juga nggak tau, Ta. Mungkin dia ngerasa keganggu kalau aku jadi fansnya. Atau mungkin gara – gara aku nggak cantik, Ta. Semua cowok kan kayak gitu. Selalu ngeliat cewek cuman dari fisiknya doang. ”
“ Ya nggak bisa gitu juga dong, Sa. Dika udah keterlaluan sama kamu. Ini udah lebih dari 5 bulan lo dia kayak gini sama kamu. Kamu nggak bisa diem aja disini, kalian nggak bisa selamanya terus kayak gini ! ”
“ La aku harus gimana lagi, Ta? Aku tahu aku udah nggak bisa ngelakuin apa – apa buat memperbaiki hubunganku sama Dika. “ tak terasa air mataku menetes kembali dengan bejuta bertuah.
“ Nggak ! Pasti ada jalan. “
“ Apa ? Udah, kamu nggak usah ngehibur aku. Aku itu tau aku sama Dika bakalan kayak gini selamanya. Aku tau Dika nggak bakal ngomong lagi sama aku, nggak bakal nganggep aku temen lagi, nggak bakal mandang aku lagi karena aku paham pandangan Dik
a memang bukan buat aku. Aku emang suka sama Dika, tapi kalau Dikanya sendiri ngerasa kebebani gara – gara perasaanku ini aku nggak bisa apa – apa kecuali nyerah.
“ Kamu itu kenapa ? Kamu biasanya nggak nyerah segampang ini. “
“ Memang. Tapi ini bener – bener udah diluar kemampuanku, Ta. Aku udah sadar sesadar sadarnya kalau aku nggak bakal bareng – bareng lagi sama Dika. Karena seberapa cepatnya aku ngejar Dika, secepat itu pula dia lari ngejauhi aku.
“ … “
***
Terpelanting dari kebuntuan yang satu ke kebuntuan lainnya, tapi tetap saja hanya dapat membisu menunggu ketidakpastian .Satu tahun berlalu. Aku sekarang udah kelas XI, kelasku berbeda dengan Dika. Jujur, aku kangen ngeliat tingkah usilnya yang setiap hari aku liat saat aku kelas X. Tapi, mungkin ini yang terbaik buat aku sama Dika. Kalau saat ini aku berada dalam kelas yang sama dengannya, aku akan semakin tersiksa karena keinget kejadian dulu. Tapi sampai sekarang, aku belum bisa ngehapus perasaanku ke Dika. Aku masih cinta sama Dika. Tapi sudah aku sadari, bersama Dika adalah mimpi.
when I fall in love,
it will be forever…..
in the restless day like this is,
love is ende before it’s begun…
when I give my heart
it will be completety…
“ Yang sabar ya, Sa. Mungkin ada yang lebih baik dari Dika buat kamu.”
“ Iya, Ta. Aku tahu kok. Makasih ya, Ta. Selama ini kamu udah mau ndengerin curhatku soal Dika.”
“ Halah nggak apa – apa. Bukannya itu gunanya sahabat ?”
“ Haha, kamu emang bener – bener best friend buat aku. Selamanya kayak gini ya.”
“ PASTI.” Akhirnya ku tapaki jalan berbatu-berdebu ini ketika aku melarikan diri hatinya Dika.
Aku lega dengan jawaban Shinta. Aku nggak tau apa jadinya kalau Shinta nggak ada di sampingku. Benar, itulah guna sahabat. Pacar tak dapat, sahabat akan selalu setia menemani. Jadi, seberapapun kamu sayang sama pacar kamu, tetap sahabatlah yang wajib di nomer satukan.
Perkataan Shinta membuat aku berfikir kalau mungkin ada yang lebih baik dari dia buat aku, dan aku nggak bisa terus – terusan ngejar Dika, karena pasti bakalan capek banget. Jadi, mungkin inilah saatnya aku ngebuka hatiku buat orang lain, dan ngelepasin Dika. Demi Tuhan , aku yakin sekarang. Aku benar benar yakin. Inilah Jawaban Tuhan kepada ku. Dengan kitab-Nya aku beristikharah dan ayat-Nya aku memperoleh keputusan bahwa aku harus melupakan dia.
***
“ Shinta ! Aku mau curhat lagi dong.”
“ Dika lagi ?
“ Bukan. Mulai sekarang aku curhatnya soal Dimas ya. “
“ Hah ? Dimas ? Sopo meneh kui ? “
“ Makanya aku mau cerita ke kamu soal dia. Sikapnya ke aku persis kayak sikapnya Dika ke aku, sebabnya juga sama. Gimana ni, Ta ? Masak aku harus ngalamin pengalaman kayak gini dua kali ? Aku beneran nggak kuat, Ta. “ kehadirannya di pagi ini ternyata membuka kerudung kepedihan kembali.
“ Hah ?! Masalah ini lagi ? Hadeh, capek deh !
Di tengah kesucian dan di pacah keheningan ini dengan nyanyian hati. Maafin aku Dika, kalau ternyata selama ini perasaanku terhadap kamu mengganggumu. Aku berharap dengan keputusanku untuk melepasmu benar. selamat menghadapi hidup yang baru . hidup yang jauh dari aku. Meski aku menengis darah.

***
Sahabat itu bagai embun pagi tatkala matahari akan menyinari bumi ini. Merasakan ketika kebahagiaan datang menghampirinya, saya juga akan loncat kegirangan. Ketika dia bersedih dan luka, saya mampu mengeluarkan air mata dan merasakan bahwa betapa saya tidak ingin ia tersakiti. Merasakan ‘kehangatan’ dan kenyamanan ketika bersama saling berbagi cerita. Merasakan bahwa di setiap langkah ia ada dalam ingatan dan selalu ingin menyenangkan hatinya di mana pun ia berada.
Teman sanggup merampas orang yang kau cintai. Tapi sahabat akan menjadi mata-mata menjaga orang yang kau cintai. Teman akan memberi mu senyuman. Tapi sahabat memberi mu kebahagiaan
1000 teman datang saat kamu tertawa
Tapi seorang sahabat akan datang saat kamu berderai air mata. Hiasilah kehidupan ini dengan senyuman karena ia melambangkan kehidupan yang harmoni.
I smile with whom I like…
I cry for whom I care…
I share with whom I really like…
I laugh with whom I enjoy…
I care only to those whom I never want to loose… *


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar